Jumat, 17 Desember 2010

MAKALAH
SEMINAR BIOLOGI

INSOMNIA



















OLEH:

JUPRIADI
066510702








PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGEAHUAN ALAM
FAKULAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2010
KATA PENGANTAR



Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Penulisan Makalah ini dengan judul “INSOMNIA” tepat pada waktunya. Makalah ini dibuat merupakan syarat untuk kelulusan mata kuliah seminar biologi.
Penulis ingin menyampaikan penghargaan, rasa hormat dan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Bapak Dr. Elfis, M. Si selaku dosen pengasuh mata kuliah Seminar Biologi yang telah banyak memberikan bimbingan, dukungan, pengarahan dan masukan-masukan kepada Penulis sehingga Penulis bisa menyelesaikan makalah ini.
Buat keluarga tercinta terutama Ibunda Rasilah dan Ayahanda Ramli, kakanda dan adindaku serta seluruh keluarga besar atas Do’a, semangat dan dukungannya selama ini. Buat sahabat-sahabatku serta rekan-rekan seperjuangan angkatan 2006 khususnya kelas B terima kasih atas do’a dan motivasi kebersamaannya selama ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan penulis. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dan mendukung demi kesempurnaan penulisan makalah ini sangat Penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Pekanbaru, April 2010


Penulis,


DAFTAR ISI



BAB 1 OTAK
1.1 Otak 1
1.2 Anatomi dan Fisiologi Otak 2

BAB 2 TIDUR
2.1 Tidur 10
2.2 Pola Tidur 11
2.3 Kebutuhan Waktu Tidur 13

BAB 3 INSOMNIA
3.1 Definisi Insomnia 16
3.2 Penyebab Insomnia 19
3.3 Gejala Insomnia 20
3.4 Pencegahan dan Pengobatan Insomnia 21

DAFTAR PUSTAKA










BAB 1
OTAK


1.1 Otak
Otak (Encephalon) adalah pusat sistem saraf (Central Nervous System, CNS) pada vertebrata dan banyak invertebrata lainnya. Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar, gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya (Wikipedia, 2010).
Otak terbentuk dari dua jenis sel: glia dan neuron. Glia berfungsi untuk menunjang dan melindungi neuron, sedangkan neuron membawa informasi dalam bentuk pulsa listrik yang di kenal sebagai potensial aksi. Mereka berkomunikasi dengan neuron yang lain dan keseluruh tubuh dengan mengirimkan berbagai macam bahan kimia yang disebut neurotransmitter . Neurotransmitter ini dikirimkan pada celah yang di kenal sebagi sinapsis. Avertebrata seperti serangga mungkin mempunyai jutaan neuron pada otaknya, vertebrata besar bisa mempunyai hingga seratus milyar neuron (Wikipedia, 2010).
Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran. Otak dan sel saraf didalamnya dipercayai dapat mempengaruhi kognisi manusia. Pengetahuan mengenai otak mempengaruhi perkembangan psikologi kognitif (Wikipedia, 2010)




1.2 Anatomi dan Fisiologi Otak
1) Bagian-bagian Otak
Menurut Beatty dalam Wikipedia (2001), pada anatomi otak vertebrata, otak depan adalah bagian atas dari otak. Pada tahap perkembangan sistem saraf pusat, otak depan berkembang dan memisahkan diri menjadi otak besar dan diensefalon. Jika pada masa embrio, otak depan mengalami hambatan untuk berkembang menjadi kedua lobus ini, maka akan terjadi suatu kondisi yang disebut holoprosensefali.
Menurut Beatty dalam Wikipedia (2001), bagian-bagian otak terdiri dari:
a. Otak besar












Gambar 1 Otak besar (Sumber: Nurwedah, 2009)

Otak besar (bahasa Inggris: telencephalon, cerebrum) adalah bagian depan yang paling menonjol dari otak depan. Otak besar terdiri dari dua belahan, yaitu belahan kiri dan kanan. Setiap belahan mengatur dan melayani tubuh yang berlawanan, belahan kiri mengatur tubuh bagian kanan dan sebaliknya. Jika otak belahan kiri mengalami gangguan maka tubuh bagian kanan akan mengalami gangguan, bahkan kelumpuhan. Tiap belahan otak depan terbagi menjadi empat lobus yaitu frontal, pariental, okspital, dan temporal. Antara lobus frontal dan lobus pariental dipisahkan oleh sulkus sentralis atau celah rolando. Istilah telencephalon mengacu pada struktur embrio yang kemudian berkembang menjadi cerebrum, dorsal telencephalon atau pallium berkembang menjadi cerebral cortex dan ventral telencephalon atau sub-pallium berkembang menjadi basal ganglia.
1) Korteks otak besar
Korteks otak besar merupakan lapisan tipis berwarna abu-abu yang terdiri dari 15 - 33 milyar neuron yang masing-masing tersambung ke sekitar 10.000 sinapsis, satu milimeter kubik terdapat kurang lebih satu milyar sinapsis. Komunikasi yang terjadi antar neuron dalam bentuk deret panjang pulsa sinyal yang disebut potensial aksi dimungkinkan melalui fiber protoplamik yang disebut akson yang dapat dikirimkan hingga ke bagian jauh dari otak atau tubuh untuk menemukan reseptor sel tertentu.
Terdapat enam lapisan korteks, neokorteks/isokorteks, arcikorteks, paleokorteks, allokorteks yang berlipat-lipat sehingga permukaanya menjadi lebih luas dengan ketebalan 2 hingga 4 mm. Lapisan korteks terdapat berbagai macam pusat saraf yang mengendalikan ingatan, perhatian, persepsi, pertimbangan, bahasa dan kesadaran.
2) Ganglia dasar
Ganglia dasar merupakan lapisan yang berwarna putih. Lapisan dalam banyak mengandung serabut saraf, yaitu Dendrit dan Neurit. Otak besar merupakan pusat saraf utama, karena memiliki fungsi yang sangat penting dalam pengaturan semua aktivitas tubuh, khususnya berkaitan dengan kepandaian (inteligensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan. Secara terperinci, aktivitas tersebut dikendalikan pada daerah yang berbeda. Di depan celah tengah (sulkus sentralis) terdapat daerah motor yang berfungsi mengatur gerakan sadar. Bagian paling bawah pada korteks motor tersebut mempunyai hubungan dengan kemampuan bicara. Daerah Anterior pada lobus frontalis berhubungan dengan kemampuan berpikir. Di belakang (Posterior) sulkus entralis merupakan daerah sensori. Pada daerah ini berbagai sifat perasaan dirasakan kemudian ditafsirkan. Daerah pendengaran (auditori) terletak pada lobus temporal. Di daerah ini, kesan atau suara diterima dan diinterpretasikan. Daerah visual (penglihatan) terletak pada ujung lobus oksipital yang menerima bayangan dan selanjutnya bayangan itu ditafsirkan. Adapun pusat pengecapan dan pembau terletak di lobus temporal bagian ujung anterior.

b. Diensefalon












Gambar 2 Struktur Diensefalon (Sumber: Hilary, 2007)

Diensefalon (bahasa Inggris: diencephalon, interbrain) adalah bagian otak yang terdiri dari:
1) Mid-diencephalic territory
a) Pretalamus / ventral talamus / subtalamus, terletak di bawah kelenjar hipotalamus. Nuklei berupa zona incerta, thalamic reticular nucleus, dan fields of Forel. Pretalamus terpola sinyal SHH (bahasa Inggris: sonic hedgehog homolog) dari ZLI dan setelah itu membuat koneksi yang berbeda-beda ke striatum (caudate nucleus dan putamen) dalam otak depan, ke talamus (gugus medial dan lateral nucleus) dalam otak kecil, dan ke red nucleus dan substantia nigra dalam otak tengah.
b) Zona limitan intratalamika (bahasa Inggris: zona limitans intrathalamica, ZLI) yang berfungsi sebagai pusat sinyal layaknya cerebrum dan sebagai pembatas antara talamus dan pretalamus.
c) Talamus / dorsal talamus yang berfungsi antara lain menghubungkan komunikasi antar belahan otak besar.
2) Hipotalamus, merupakan pusat pengendalian waktu biologis, suhu tubuh dan sekresi hormon dan fungsi biologis lain. Hipotalamus terletak di dasar otak depan.
3) Epitalamus
4) Pretektum

c. Otak tengah












Gambar 3 Otak tengah (Sumber: Nurwedah, 2009)
Otak tengah (bahasa Inggris: mesencephalon) adalah bagian otak yang mempunyai struktur:
1) Tektum, terdiri dari 2 pasang colliculi yang disebut corpora quadrigemina:
a) Inferior colliculi, terlibat pada proses pendengaran. Sinyal yang diterima dari berbagai nukleus batang otak diproyeksikan menuju bagian dari talamus yang disebut medial geniculate nucleus untuk diteruskan menuju korteks pendengaran primer (bahasa Inggris: primary auditory cortex).
b) Superior colliculi, berperan sebagai awal proses visual dan pengendalian gerakan mata
2) Cerebral peduncle
a) Tegmentum adalah jaringan multi-sinapsis yang terlibat pada sistem homeostasis dan lintasan refleks.
b) Crus cerebri
c) Substantia nigra
d. Otak belakang
Otak belakang (bahasa Inggris: myelencephalon, metencephalon, rhombencephalon) meliputi jembatan Varol (bahasa Inggris: pons, pons Varolii), sumsum lanjutan (bahasa Inggris: medulla oblongata), dan otak kecil (bahasa Inggris: cerebellum). Ketiga bagian ini membentuk batang otak (bahasa Inggris: brainstem).
1) Jembatan Varol berisi serabut saraf yang menghubungkan lobus kiri dan kanan otak kecil, serta menghubungkan otak kecil dengan korteks otak besar.
2) Sumsum lanjutan membentuk bagian bawah batang otak serta menghubungkan jembatan pons dengan sumsum tulang belakang. Sekelompok neuron pada formasi retikular di dalam sumsum lanjutan berfungsi mengontrol sistem pernafasan, dan syaraf kranial yang berfungsi mengatur laju denyut jantung juga berada pada sumsum ini. Selain itu juga berperan sebagai pusat pengatur refleks fisiologi, tekanan udara, suhu tubuh, pelebaran atau penyempitan pembuluh darah, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan. Fungsi lainnya ialah mengatur gerak refleks, seperti batuk, bersin, dan berkedip.













Gambar 4 Otak belakang (Sumber: Yunita, 2008)

e. Otak Kecil
Otak kecil (bahasa Inggris: cerebellum) merupakan bagian terbesar otak belakang. Otak kecil ini terletak di bawa lobus oksipital serebrum. Otak kecil terdiri atas dua belahan dan permukaanya berlekuk-lekuk. Fungsi otak kecil adalah untuk mengatur sikap atau posisi tubuh, keseimbangan, dan koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar. Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.















Gambar 5 Otak kecil (Sumber: Nurwedah, 2009)

2) Fungsi Otak
Menurut Hilary (2007), perbedaan teori fungsi otak kanan dan otak kiri telah populer sejak tahun 1960. Seorang peneliti bernama Roger Sperry menemukan bahwa otak manusia terdiri dari 2 hemisfer (bagian), yaitu otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi yang berbeda. Atas jasanya ini beliau mendapat hadiah Nobel pada tahun 1981. Selain itu dia juga menemukan bahwa pada saat otak kanan sedang bekerja maka otak kiri cenderung lebih tenang, demikian pula sebaliknya.
Menurutnya fungsi otak kanan dan otak kiri adalah sebagai berikut:
1) Otak kanan berfungsi dalam hal persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna. Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory). Bila terjadi kerusakan otak kanan misalnya pada penyakit stroke atau tumor otak, maka fungsi otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi misalnya.


2) Otak kiri berfungsi dalam hal perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan dan logika. Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kiri maka akan terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa dan matematika.













Gambar 6 Fungsi otak kiri dan otak kanan (Sumber: Admin, 2008)











BAB 2
TIDUR


2.1 Tidur
Setiap manusia tiap hari akan tidur selama lebih kurang enam sampai delapan jam. Namun demikian masih sangat banyak orang yang tidak mengetahui hakikat dan kegunaan dari tidur tersebut. Tidur merupakan keadaan hilangnya kesadaran secara normal dan periodik. Dengan tidur, maka akan dapat diperoleh kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan kondisi tubuh baik secara fisologi maupun psikis. Tidur dapat dianggap suatu perlindungan bagi tubuh untuk menghindarkan pengaruh-pengaruh yang merugikan kesehatan akibat kurang tidur (Lanywati, 2001).
Tidur adalah keadaan istirahat alami pada berbagai binatang menyusui, burung, ikan, dan binatang tidak bertulang belakang seperti lalat buah Drosophila. Pada manusia dan banyak spesies lainnya, tidur penting untuk kesehatan. Tanda-tanda kehidupan seperti kesadaran, puls, dan frekuensi pernapasan mengalami perubahan. Dalam tidur normal biasanya fungsi saraf motorik juga saraf sensorik untuk kegiatan yang memerlukan koordinasi dengan sistem saraf pusat akan diblokade, sehingga pada saat tidur cenderung untuk tidak bergerak dan daya tanggappun berkurang. Fase peralihan dari sadar ke tidur disebut sebagai pradormitium dan fase peralihan dari tidur kembali ke sadar disebut sebagai postdormitium (Wikipedia, 2010).
Selanjutnya Lanywati (2001), pusat saraf tidur terletak di otak, akan mengatur fisiologis tidur yang sangat penting bagi kesehatan. Pada saat tidur, aktivitas saraf parasimpatik akan bertambah dengan efek perlambatan pernapasan (broncokonstriksi) dan turunnya kegiatan jantung serta stimulasi aktivitas saluran pencernaan (peristaltic dan sekresi gatah-getah lambung diperkuat), sehingga proses pengumpulan energi dan pemulihan tenaga dalam tubuh dipercepat. Dengan demikian, tidur dapat memberikan kesegaran fisik dan psikis.
Tidur merupakan suatu proses otak yang dibutuhkan oleh seseorang untuk dapat berfungsi dengan baik. Masyarakat awam belum begitu mengenal gangguan tidur sehingga jarang mencari pertolongan. Pendapat yang menyatakan bahwa tidak ada orang yang meninggal karena tidak tidur adalah tidak benar. Beberapa gangguan tidur dapat mengancam jiwa baik secara langsung (misalnya insomnia yang bersifat keturunan dan fatal dan apnea tidur obstruktif) atau secara tidak langsung misalnya kecelakaan akibat gangguan tidur. Di Amerika Serikat, biaya kecelakaan yang berhubungan dengan gangguan tidur per tahun sekitar seratus juta dolar (Amir , 2008).
Pada banyak orang yang tidak mengalami gangguan sulit tidur, tentu akan mempertanyakan mengapa tidur dipermasalahkan atau dipersoalkan. Tetapi pada beberapa orang, terutama yang mengalami sulit tidur, maka merupakan suatu masalah besar. Menurut WHO (World Helth Organization) pada tahun 1993, sekitar 18% penduduk dunia pernah mengalami gangguan sulit tidur, dengan keluhan yang sedemikian hebatnya sehingga menyebabkan tekanan jiwa bagi penderitanya (Lanywati, 2001).

2.2 Pola Tidur
Menurut Lanywati (2001), secara umum proses tidur normal diawali dengan tahap mengantuk, yaitu suatu keadaan saat hubungan antara kesadaran dengan lingkungan berkurang. Pada saat mengantuk ini, rangsangan-rangsang dari luar masih dapat diterima dengan mudah dan membuat terbangun atau tersadar kembali. Kemudian, jika proses tdur berlanjut, maka kesadaran semakin berkuranng dan timbulah suatu tahap yang disebut sebagai tahap tidur ayam. Pada tahap ini, rangsangan indra masih sedikit dapat diterima (sayup-sayup), namun tidak mengganggu kesadaran, tahap berikutnya merupakan tahap yang terakhir, yaitu tahap tidur nyeyak.
Menurut Tomb (2004), tidur yang normal adalah siklik (empat sampai lima siklus per malam) dan aktif, tidak pasif. Dimana tidur dimulai dengan keluarnya melatonin dari kelenjar pineal dan secara bertahap melalui fase-fase sepanjang malam.
Selanjutnya Lanywati (2001), sejak adanya alat EEG (Electro Encephalo Graph), maka aktivitas-aktivitas di dalam otak dapat direkam dalam suatu grafik. Penelitian mengenai mekanisme tidur mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam 10 tahun terakhir, dan bahkan sekarang para ahli menemukan ada dua pola tidur, yaitu pola tidur biasa (Non REM) dan pola tidur Paradoksal (REM).
1) Pola tidur biasa
Pola tidur biasa juga disebut sebagai tidur Non-REm (Non-Rapid Eye Morement). Pada keadaan ini, sebagian besar organ tubuh secara berangsur-angsur menjadi kurang aktif, pernapasan teratur, kecepatan denyut jantung berkurang, otot mulai berelaksasi, mata dan muka diam tanpa gerak. Fase non-REM berlangsung sekitar satu jam, dan pada fase ini biasanya orang masih bisa mendengarkan suara di sekitarnya, sehingga dengan demikian akan mudah terbangun dari tidurnya.
2) Pola tidur paradoksal
Pola tidur paradoksal disebut sebagai tidur REM (Rapid Eye Moremen). Pada fase ini, akan terjadi gerakan-gerakan mata secara cepat, denyut jantung dan pernapasan yang naik turun, sedangkan otot mengalami pengendoran (relaksasi total). Proses relaksasi total ini sangat berguna bagi pemulihan tenaga dan penghilangan semua rasa lelah. Fase tidur REM (fase tidur nyueyak) berlangsung selama sekitar 20 menit. Pada fase ini, sering timbul mimpi-mimpi, menggigau, atau bahkah mendengkur.
Dalam tidur malam yang berlangsung selama enam sampai delapan jam, kedua pola tidur tersebut (REM dan Non-REM) terjadi secara bergantian sebanyak empat sampai enam siklus.














Gambar 7 Siklus Pola Tidur (Sumber: Medicastore, 2010)

2.3 Kebutuhan Waktu Tidur
Waktu yang diperlukan untuk tidur bagi anak-anak lebih banyak jika dibandingkan dengan orang tua. Pada mulanya bayi yang baru lahir akan menghabiskan waktunya untuk tidur, dan hanya terbangun bila hanya merasa lapar, ngompol, ataupun kedinginan. Namun, seiring dengan bertambahnya usia, kebutuhan waktu untuk tidur akan berkurang. Jika bayi memerlukan tidur selama 16 jam, maka orang dewasa memerlukan waktu sekitar delapan jam, dan orang yang sudah tua berusia sekitar 50 tahun memerlukan waktu rata-rata lima sampai enam jam untuk tidur (Lanywati, 2001).
Menurut Admin (2010), berdasarkan teori restorasi sekurangnya ada enam hal yang diduga kuat merupakan sebab dari mengapa manusia membutuhkan tidur :
1) Perbaikan sel otak. Dengan tidur, otak berkesempatan untuk istirahat dan memperbaiki neuron-neuron (sel-sel otak) yang rusak. Tidur juga berperan menyegarkan kembali koneksi penting antar sel-sel otak yang kurang digunakan. Ada koneksi-koneksi antar sel otak yang jarang digunakan yang memerlukan pemanasan secara rutin. Bentuk pemanasan otak bagi manusia berupa tidur.
2) Penyusunan ulang memori. Tidur memberikan kesempatan kepada otak untuk menyusun kembali data-data atau memori agar bisa menemukan solusi terhadap sebuah masalah. Pada saat merasa pusing dan tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi suatu masalah, tidurlah, sangat mungkin setelah tidur solusi dalam memecahkan yang anda hadapi akan ditemukan.
3) Penghematan energi. Tidur menghasilkan rata-rata metabolisme tubuh dan konsumsi energi yang rendah. Oleh karena itu apabila seseorang kurang cukup makan atau memiliki asupan energi yang sedikit, maka tidur menjadi alternatif karena tidak banyak mengeluarkan energi.
4) Sistem kardiovaskular atau peredaran darah berisitirahat selama tidur. Peneliti menemukan bahwa orang dengan tekanan darah normal atau tinggi akan berkurang 20-30% tekanan darahnya, dan berkurang 10-20% denyut jantungnya.
5) Perbaikan enzim dan otot-otot tubuh. Selama tidur sel-sel otot tubuh yang rusak atau tua digantikan oleh sel-sel baru. Proses penyembuhan cedera lebih cepat dalam keadaan tidur.
6) Produksi hormon. Banyak hormon diproduksi dalam darah selama tidur. Misalnya hormon pertumbuhan pada anak-anak dan remaja, yakni hormon luteinizing yang berperan dalam pencapaian pubertas atau kematangan dan proses reproduksi dihasilkan ketika tidur.
Selanjutnya Lanywati (2001), menyatakan kebutuhan waktu untuk tidur adalah berlainan. Kebiasaan tidur setiap orang adalah bervariasi tergantung pada kebiasaan yang dibawa semasa perkembangannya menjelang dewasa, aktivitas pekerjaan, usia, kondisi kesehatan dan lain sebagainya. Kebutuhan tidur yang cukup ditentukan selain oleh faktor jumlah jam tidur (kuantitas tidur), juga oleh faktor kedalaman tidur (kualitas tidur). Seseorang dapat tidur dengan waktu yang pendek, namun dengan kedalaman tidur yang cukup. Sehingga dengan demikian, pada saat bangun tidur yang demikian tidak akan mengganggu kesehatan.
Kurang tidur yang sering terjadi dan berkepanjangan, dapat mengganggu kesehatan fisik dan mempengaruhi system saraf, menyebabkan tejadinya perubahan suasana kejiwaan, kurang tanggap terhadap adanya rangsangan dan kuarang dapat berkonsentrasi (Inselbacher, 1999).

























BAB 3
INSOMNIA


3. 1 Definisi Insomnia
Menurut Lanywati (2001), insomnia atau gangguan sulit tidur merupakan suatu keadaan seseorang dengan kuantitas dan kualitas tidur yang kurang sedangkan menurut (Ahira, 2010), insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun. Insomnia sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. Dalam hal ini, bantuan medis atau psikologis akan diperlukan. Salah satu terapi psikologis yang efektif menangani insomnia adalah terapi kognitif.













Gambar 8 Potensi Komplikasi pada Insomnia (Sumber: Wikipedia, 2009)
Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering ditemukan. Setiap tahun diperkirakan sekitar 20%-50% orang dewasa melaporkan adanya gangguan tidur dan sekitar 17% mengalami gangguan tidur yang serius. Prevalensi gangguan tidur pada lansia cukup tinggi yaitu sekitar 67 %. Walaupun demikian, hanya satu dari delapan kasus yang menyatakan bahwa gangguan tidurnya telah didiagnosis oleh dokter (Adinz, 2009)
Menurut klasifikasi diagnostic dari WHO pada tahun 1990, insomnia dimasukan dalam golongan DIMS (Disorder of Iniatingh and Maintaining Sleep), yang secara praktis diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu insomnia primer dan insomnia sekunder (Lanywati, 2001).
1) Insomnia Primer
Insomnia primer merupakan gangguan sullit tidur yang penyebabnya belum diketahui secara pasti. Sehingga dengan demikian, pengobatannya masih relative sukar dilakukan dan biasanya berlangsung lama atau kronis (long term insomnia). Insomnia primer ini sering menyebabkan terjadinya komplikasi kecemasan dan depresi, yang justru dapat menyebabkan semakin parahnya gangguan sulit tidur tersebut. Sebagian penderita golongan ini mempunyai dasar gangguan psikiatris, khususnya depresi ringan sampai menengah berat. Adapun sebagian penderita lain merupakan pecandu alkohol atau obat-obatan terlarang. Kelompok terakhir ini merupakan penanganan yang khusus secara terpadu mencakup perbaikan kondisi tidur (sleep environments), pengobatan, dan terapi kejiwaan (psikoterapi)
2) Insomnia Sekunder
Insomnia sekunder merupakan gangguan sulit tidur yang penyebabnya dapat diketahui secara pasti. Gangguan tersebut dapat berupa faktor gangguan sakit fisik, maupun gangguan kejiwaan (psikis). Pengobatan isomnia sekunder relatif lebih mudah dilakukan, terutama dengan menghilangkan penyebab utamanya terlebih dahulu. Insomnia sekunder dapat dibedakan sebagai berikut:

a. Insomnia Sementara (Transiaent Insomnia)
Insomnia sementara terjadi pada seseorang yang termasuk dalam golongan dapat tidur normal, namun karena adanya stress atau ketegangan sementara (misalnya karena adanya kebisingan atau pindah tempat tidur), menjadi sulit tidur. Pada keadaan ini, obat hipnotik dapat digunakan ataupun tidak (tergantung pada kemampuan adaptasi penderita terhadap lingkungan penyebab stress atau ketegangan tersebut).
b. Insomnia Jangka Pendek (Short Term Insomnia)
Insomnia jangka pendek merupakan gangguan sulit tidur yang terjadi para penderita sakit fisik (misalnya batuk, rematik dan lain sebagainya), atau mendapat stress situasional misalnya kehilangan atau kematian orang terdekat, pindah pekerjaan, dan lain sebagainya). Biasanya gangguan sulit tidur ini dapat sembuh beberapa saat setelah terjadi adaptasi, pengobatan, ataupun perbaikan suasana tidur. Dalam kondisi ini, pemakaian obat hipnotik dianjurkan dengan pemberian tidak melebihi tiga minggu (paling baik diberikan satu minggu saja). Pemakaiaan obat sacara berselang-seling (intermittent), akan lebih aman, karena dapat menghindari terjadinya efek sadasi yang timbul berkaitan dengan akumulasi obat.
Selanjutnya Nurmiati dalam Bararah (2010), menambahkan ada tiga tipe dari insomnia, yaitu:
1) Insomnia transien, yaitu kesulitan tidur yang berlangsung kurang dari seminggu dan disebabkan oleh stres akut, perubahan jam kerja atau jet lag.
2) Insomnia jangka pendek, yaitu kesulitan tidur yang berlangsung selama 1-4 minggu dan disebabkan oleh stres terus menerus, penyakit akut atau obat-obatan tertentu.
3) Insomnia kronik, yaitu kesulitan tidur yang berlangsung lebih dari sebulan dan disebabkan oleh adanya gangguan kimia otak atau hormon serta gangguan psikiatri.
3.2 Penyebab Insomnia
Menurut Febriani (2009), insomnia dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
1) Faktor Psikologi
Stres yang berkepanjangan paling sering menjadi penyabab dari Insomnia jenis kronis, sedangkan berita-berita buruk gagal rencana dapat menjadi penyebab insomnia transient.
2) Problem Psikiatri
Depresi paling sering ditemukan. Kamu bangun lebih pagi dari biasanya yang tidak kamu ingini, adalah gejala paling umum dari awal depresi, cemas, neorosa, dan gangguan psikologi lainnya sering menjadi penyebab dari gangguan tidur.
3) Sakit Fisik
Sesak nafas pada orang yang terserang asma, sinus, flu sehingga hidung yang tersumbat dapat merupakan penyebab gangguan tidur. Selama penyebab fisik atau sakit fisik tersebut belum dapat di tanggulangi dengan baik, gangguan tidur atau sulit tidur akan dapat tetap dapat terjadi.
4) Faktor Lingkungan
Lingkungan yang bising seperti lingkungan lintasan pesawat jet, lintasan kereta api, pabrik atau bahkan TV tetangga dapat menjadi faktor penyebab susah tidur.
5) Gaya Hidup
Alkohol , rokok, kopi, obat penurun berat badan, jam kerja yang tidak teratur, juga dapat menjadi faktor penyebab sulit tidur.



















Gambar 9 Kopi menjadi penyebab sulit tidur (Sumber: Nina, 2009)

3.3 Gejala Insomnia
Menurut Lanywati (2001), gejala insomnia dapat dibedakan sebagai berikut:
1) Kesulitan memulai tidur (Initial Insomnia, biasanya disebabkan oleh adanya gangguan emosi, ketegangan atau gangguan fisik.
2) Bangun terlalu awal (early awakening), yaitu dapat memulai tidur dengan normal, namun tidur mudah terputus dan bangun mudah lebih awal dari waktu tidur biasanya, serta kemudian tidak bisa tidur lagi. Gejala ini sering muncul seiring dengan bertambahnya usia seseorang atau karena depresi dan lain sebagainya.







3.4 Pencegahan dan Pengobatan Insomnia
1) Pencegahan insomnia
Menurut Baroto (2009), hal yang yang dapat mencegah terjadinya insomnia adalah sebagai berikut:
a. Berhenti merasa cemas. Mengkhawatirkan masalah yang Anda hadapi setiap hari hanya akan membuat Anda susah memejamkan mata. Jika kekhawatiran merupakan penyebabnya, cobalah untuk lebih rileks. Atasi masalah yang Anda hadapi dan perpendek masa insomnia Anda. Tapi jika Anda masih mengalami insomnia setelah mengatasi masalah, sebaiknya pergi lah ke dokter.
b. Hindari berolahraga dua jam sebelum waktu tidur. Berolahraga sebelum waktu tidur atau dua jam sebelum tidur akan mengurangi perasaan rileks. Anda perlu mengurangi tingkat energi Anda, jadi lakukan kegiatan yang mendatangkan rasa santai di saat-saat sebelum tidur.













Gambar 10 Berolah raga yang harus dihindari dua jam sebelum tidur (Sumber: Gunawan, 2008)

c. Hindari rangsangan. Jangan mengkonsumsi kafein setelah sore hari, hindari alkohol dan merokok, apalagi pada saat sebelum tidur. Sebaiknya minum satu cangkir teh non kafein, teh chamomile yang terbaik untuk membuat rileks.












Gambar 11 Alkohol dan rokok penyebab insomnia (Sumber: Gunawan, 2008)

d. Ciptakan zona nyaman untuk tidur. Zona nyaman saat-saat menjelang tidur dapat anda sesuaikan dengan kebutuhan, misalnya kesejukan ruangan, terang dan gelapnya ruangan, ketenangan atau mungkin juga harus mematikan alat-alat elektronik. Ada orang-orang tertentu yang membutuhkan ketenangan total untuk dapat tertidur, jadi hindari jam yang berdetak di ruangan. Jangan bekerja, makan, nonton TV dan membaca di tempat tidur.
e. Minum sedikit air di malam hari. Banyak minum akan membuat Anda kebelet pipis. Pasti tidak menyenangkan di tengah-tengah tidur lelap tiba-tiba Anda mendapat dorongan ke kamar kecil. Jika memang dibutuhkan, minum satu cangkir teh hangat atau setengah gelas air putih sebelum tidur.
f. Tidurlah hanya pada jam tidur. Tidur panjang di siang hari hanya akan mengubah siklus normal jadwal tidur Anda. Sebisa mungkin hindari tidur siang berlebihan agar bisa lelap tidur di malam hari.
g. Jadikan kamar tidur tempat yang nyaman. Anda bisa menyingkirkan rasa khawatir saat naik ke tempat tidur. Gunakan saat siang untuk memikirkan segala permasalahan. Jika memang Anda butuh menuliskan apa pun masalah yang Anda pikirkan, lakukan di luar kamar tidur. Jadikan kamar tidur sebagai tempat terjauh dari rasa khawatir. Kalau perlu tuliskan peraturan dan tempelkan di dinding kamar agar Anda selalu ingat. Sebelum naik ke tempat tidur, ucapkan keras-keras untuk tidak memikirkan apapun yang membuat Anda merasa resah.












Gambar 12 Tempat tidur yang nyaman (Sumber: Gunawan, 2008)

h. Menjauhkan diri. Jika 15 menit berlalu dan Anda belum juga bisa tidur, tinggalkan kamar dan lakukan sesuatu yang membuat Anda merasa rileks. Mandi air hangat, membaca buku atau melakukan perenggangan bisa membantu mengatasi saat seperti ini. Setelah 20 atau 30 menit Anda bisa kembali ke tempat tidur. Jika masih tidak berhasil, ulangi lagi aktivitas tadi. Tidur cukup dan nyenyak memang dibutuhkan untuk membuat Anda merasa segar. Dengan pikiran dan perasaan segar, dijamin Anda akan dapat melakukan aktivitas apapun dengan lebih baik.

2) Pengobatan Insomnia
Insomnia atau gangguan sulit tidur dpat diakibatkan oleh banyak faktor, misalnya batuk, sesak nafas (asma, bronchitis), rasa nyeri (rematik, encok, migraine, terkilir, dan sebagainya), serta beberapa faktor lain yang berupa gangguan-gangguan emosi, ketegangan, kecemasan, depresi, dan lain sebagainya. Sehingga dalam pengobatannya, yang pertama harus dilakukan adalah mencari dan menghilangkan penyebab utamanya, masing-masing dengan obat yang tepat, misalnya obat batuk, obat sesak napas (broncodilator), analgetika (obat rematik dan encok), anti-depresiva atau sedative, dan tranquillizer (Lanywati, 2001).
Selain itu menurut Lanywati (2001), para penderita insomnia dianjurkan untuk mengembangkan kebiasaan tidur pada waktu tertentu setiap malam, dan berusaha untuk mengurangi stres atau ketegangan emosi, misalnya dengan menonton TV atau membaca berita-berita ringan, melakukan gerak badan atau olah raga ringan secara teratur, tidak merokok atau minum kopi di malam hari.
Menurut Weiner (2001), pengobatan insomnia dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan pengobatan insomnia sulit dan harus dirancang secara individual. Beberapa langkah pengobatan untuk penderita insomnia antara lain:
1) Manipulasi lingkungan seperti mengubah waktu tidur, olah raga sore hari, mandi air hangat sebelum tidur.
2) Teknik relaksasi
3) Psikoterapi
4) Obat-obat hipnotika jangka pendek
Selanjutnya Lanywati (2001), menambahkan beberapa teknik atau metode terapi tanpa obat yang dapat dilakukan untuk mangatasi gangguan sulit tidur adalah metode bootzin dan metode ralaksasi.
1) Metode bootzin
Metode bootzin dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Pada prinsipnya, setiap malam hanya pergi tidur jika sudah merasa ngantuk
b. Segara tinggalkan kamar tidur jika dalam waktu 15 menit belum jatuh tidur, dan lakukan sesuatu hingga rasa ngantuk datang
c. Hindari tidur siang
d. Jangan melakukan pekerjaan lain selain tidur dikamar tidur
2) Metode Relaksasi
Metode relaksasi cukup bermanfaat untuk menyembuhkan insomnia. Menurut survey dan penelitian dibidang kedokteran, sebagian besar para penderta insomnia merupakan orang yang sulit untuk relaks (santai) dan sering tidak bisa merasa tenang. Menurut Sadhana dalam Lanywati (2001), beberapa langkah yang dilakukan dalam metode relaksasi adalah sebagai berikut:
a. Berdoa setiap akan tidur. Dengan berdoa kepada tuhan memohon atas segala kesalahan dan agar diberikan ketenangan lahir dan batin, maka hati akan terasa tentram dan tenang.
b. Kemudian, pusatkan pikiran secara pasif keperasaan, rasakan gerakan udara yang keluar masuk melalui lubang hidung. Saat udara dihisap dan masuk kedalam paru-paru, pusatkan pikiran dan hayati rasa segar udara yang baru tersebut. Kemudian pada saat udara dihembuskan keluar, pusatkan pikiran pada keadaan tenang atau relaks.
c. Jangan mengatur atau memperdalam pernapasan, ini bukan merupakan latihan pernapasan, tetapi merupakan latihan ketenangan.
d. Pikiran sebaiknya diarahkan kepada pengertian bahwa tidur bukanlah masalah, yang terpenting adalah istirahat yang tenang.

Selanjutnya Utomo (2005), untuk pengobatan insomnia ini dapat dilakukan dengan cara pengobatan secara tradisional dan modern yaitu:
1) Pengobatan secara tradisional
a. Resep tradisional pertama
1) Bahan (1 sendok makan madu murni, 1 buah biji pala, air hangat 200 ml)
2) Proses pembuatan (tumbuk biji hingga halus benar. Berikutnya masukan kedalam gelas yang telah berisi air hangat lalu tambahkan madu murni seterusnya aduk hingga rata betul).
3) Cara pemakaian (satu kali sehari menjelang mau tidur, diminum saat ramuan hangat-hangat kuku).
4) Pemakaian (sulit tidur)
b. Resep tradisional kedua
1) Bahan (satu ikat kangkung ukuran sedang, batang, akar dan daun)
2) Proses pembuatan (bersihkan kangkung lalu rebus dengan 750 ml, angkat rebusan kangkung biarkan sampai dingin lalu saring)
3) Cara pemakaian (satu kali sehari menjelang mau tidur)
4) Pemakaian (sulit tidur)
c. Resep tradisional ketiga
1) Bahan (satu ons catnip, satu ons scullap, satu ons peppermint, dan satu sendok teh madu)
2) Proses pembuatan (campurkan semua bahan diatas secara merata (diaduk-aduk) lalu disimpan didalam toples yang tertutup rapat. 1-2 sendok teh campuran tersebut dimasukan kedalam cangkir dan diisi dengan air mendidih sebanyak 65 cc, lalu ditutup rapat. Biarkan panasnya mencapai hangat-hangat kuku kemudian disaring, lalu tambahkan 1 sendok teh madu).
3) Cara pemakaian (satu kali sehari menjelang mau tidur).
4) Pemakaian (sulit tidur)

d. Resep tradisional keempat
1) Bahan ( 1 ons Chi-Hsueh-Ts-ao, dan 1 ons Wu-Pa-Ho).
2) Proses pembuatan (campurkan kedua bahan diatas dan aduk-aduk sampai rata betul kemudian disimpan dalam wadah yang tertutup rapat. Ambil 1-2 sendok teh campuran diatas lalu masukan kedalam cangkir yang berisi air mendidih sebanyak 100 cc kemudian cangkir tersebut ditutup rapat dibiarkan sampai hangat-hangat kuku lalu saring).
3) Cara pemakaian (1 x 1 cagkir diminum menjelang tidur).
2) Pengobatan secara modern
Resep modern yang digunakan adalah Sui Tek An yang diproduksi Under the Supervision of Guangzhou Chinese Medicina United Pharmaceutical Faktory.
Aturan dan dosis (1-2 kapsul sebelum tidur dengan air hangat matang yang sejuk).
















DAFTAR PUSTAKA




Adinz. 2009. Jurnal Keperawatan Hubungan antara Insomnia dan Depresi Pada Lnjut Usia. http://askep.blogspot.com/2009_08_01_archive.html.

Admin. 2008. Tips Agar Otak Kanan Tidak Loyo (Online) http://keluargacemara.com/. Diakses tanggal 13 April 2010.

Admin. 2010. Dibalik tidur (Online). http://psikologi-online.com/dibalik-tidur. Diakses tanggal 13 April 2010

Ahira. S. 2010. Insomnia (Online). http://catatan-harian-syifa.blogspot.com/. Diakses tanggal 13 April 2010

Amir,. N. 2008. Gangguan Tidur (Online). http://ruryhealthyideas.blogspot.com. Diakses tanggal 13 April 2010

Bararah V, Farah. 2010. 28 Juta Orang Indonesia Terkena Insomnia (Online). http://30detik.wordpress.com/2010/05/02/sulit-tidur-apakah-anda-salah-satunya/. Diakses tanggal 13 April 2010

Baroto,. A. 2009. Atasi Insomnia, Perlancar Aktivitas (Onine). http://bbawor.blogspot.com/2009/12/atasi-insomnia-perlancar-aktivitas.html. Diakses tanggal 13 April 2010

Febriani. 2009. Gejala Penyebab Insomnia (Online). http://www.tentangwanita.com. Diakses tanggal 13 April 2010

Gunawan. S. 2008. 10 Tips Untuk Menghindari Insomnia (Online). http://www.ahliwasir.com/products/89/0/10-Tips-Untuk-Menghindari-Insomnia/. Diakses tanggal 13 April 2010

Hilary. 2007. Pembagian Otak Manusia (Online). http://hil4ry.wordpress.com. Diakses tanggal 28 April 2010.

http://id.wikipedia.org/wiki/otak. Diakses tanggal 13 April 2010

http://id.wikipedia.org/wiki/tidur. Diakses tanggal 13 April 2010

Isselbacher., K. J. 1999. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC

Lanywati,.E. 2001. Insomnia Gangguan Sulit Tidur. Yogyakarta: Kanisius

Nurwendah. 2009. Sistem Saraf pada Manusia. http://www.e dukasi.net/. Diakses Tanggal 21 mai 2010.

Medicastore. 2010. Insomnia (Kesulitan Tidur) Online. http://medicastore.com. Diakses tanggal 13 April 2010

Nina. 2009. Insomnia. http://hijau-lumut.blogspot.com/2009/03/insomnia.html

Ranganathan. G., S.G. 2007. Terapi Penyakit Kronis. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher

Tomb,. D. A. 2004. Buku Saku Psikiatri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Utomo,. P. 2005. Apresiasi Penyakit. Jakarta: Rineka Cipta

Weiner. L. H. 2001. Buku Saku Neurologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Yunita,. R. 2008. Kotak - Kotak Otak http://rinyyunita.wordpress.com. Diakses tanggal 13 April 2010